Rabu, 30 Mei 2012

Jembatan tak bertepi

Hidup adalah sebuah perjalanan yang sangat panjang. Kita ibarat sedang meniti di sebuah jembatan yang sangat panjang dan penuh dengan misteri. Kita tidak tahu sampai kapan kita harus terus menelusuri jembatan itu. Uhfff, sangat melelahkan. Sudah hampir 20 tahun saya terus menelusuri jembtan ini, dengan segala cerita yang tak pernah ada habisnya. Ntah butuh berapa waktu untuk menceritakannya, dan ntah berpa lembar halaman menuliskannyaakannya.
Jembatan tak bertepi, banyak kisah terjadi dipejalanannya, banyak hal yang ditemukan dalam pengembaraannya. Misteri yang tak akan terungkap jika aku berhenti berjalan dan tidak meneruskannya. Akan banyak hal yang aku sia-siakan.

Obat warisan keluarga "Tawar Karo"


Tawar Karo
OLEH: DESY IRIANA
Tawar adalah sebuah ramuan tradisional yang terbuat dari rempah-rempah dan bermanfaat untuk menyembuhkan penyakit dalam. Tawar sendiri berasal dari bahasa Karo yang artinya adalah obat atau jamu. Kalau dahulu sebelum kita dikenalkan dengan tekhnologi yang sudah serba canggih seperti saat sekarang ini, banyak dari keluarga kita yang mengkonsumsi obat tradisional. Obat-obatan yang terbuat dari bahan alami dan diolah dengan cara dan alat yang. Tapi hari ini, sudah sangat jarang kita menemukan obat-obat yang seperti itu. Dari kita kecil sudah diperkenalkan dengan obat yang sudah kompleks. Mulai dari bentuk, warna, bau, fungsi cara dan alat pembuatannya. Dengan zaman yang sudah modern, orang lebih percaya dengan resep yang diberukan oleh Dokter. Atau mengkonsumsi ikut dari iklan yang ada di media, baik itu media cetak ataupun elektronik.
Namun tetap masih ada juga orang yang setia mengkonsumsi obat tradisional sampai sekarang. Mereka merasa cocok dan aman dalam menggunakannya. Tidak ada efek samping yang berlebihan karena berasal dari bahan yang alami. Begitu juga dengan pembuat obat tradisional ini. Mereka bertahan sampai sekarang karena pelanggan yang setia dan percaya bahwa obat yang mereka buat manjur dan cocok di hati pelanggannya. Inilah yang di rasakan oleh nenek boru  Karo yang sudah berusia 77 tahun.  Ketertarikan sang nenek pada ramuan-ramuan tradisional menimbulkan keinginan untuk mempelajari ramuan tawar dari sang mertua. Setelah sang mertua meninggal ramuan ini pun diteruskan olehnya  sampai sekarang, dan bahkan keahliannya sudah diwariskan kepada cucunya. Usaha ramuan tawar ini sudah dijalankan selama  lebih dari 50 tahun.