Jumat, 22 Juni 2012

Penelitian KODIM "Sampah"


PENGELOLAAN LINGKUNGAN           

Membentuk Komunitas Peduli Lingkungan Hidup di Desa Jaring Halus
Kecamatan Secanggang Kabupaten Langkat Provinsi Sumatera Utara

Oleh:
   Tim Pengusul

    Kelompok Diskusi Mahasiswa (KODIM) Antropologi


“GERAKAN PEDULI SAMPAH”
Latar belakang
Sembilan puluh  persen dari keseluruhan produksi sampah di Indonesia belum mengalami proses daur ulang(1). Budaya membuang sampah secara sembarangan menjadi kendala percepatan proses daur ulang. Padahal, proses daur ulang sampah bisa memiliki nilai ekonomi. Sampah yang sudah dimanfaatkan menjadi barang bernilai ekonomi hanya sekitar lima hingga 10 persen.
Setiap hari produksi sampah di kawasan metropolitan mencapai 2.000 hingga 6.000 ton. Sedangkan kota-kota besar, memproduksi sebanyak 1.000 hingga 3.000 ton sampah per hari dengan produksi terbesar yaitu sampah rumah tangga(2). Sedikitnya jumlah sampah yang didaur ulang dipengaruhi pola hidup masyarakat yang kurang memperhatikan kebersihaan lingkungan. Namun masyarakat belum memperhatikan nilai sampah untuk kepentingan jangka panjang. Sampah rumah tangga punya nilai ekonomi yang tinggi jika diolah dengan baik. Namun, masyarakat cenderung langsung membuang sampah basah dan kering yang dicampur, begitu pula dengan kota Medan.
Produksi sampah yang dihasilkan warga dan pelaku usaha  yang beroperasi di Kota Medan pada tahun ini mencapai 1.500 ton per hari. Beruntungnya kota ini meskipun menghasilkan sampah 1500 ton per hari masih memiliki sarana yang cukup baik untuk mengolah sampah sampah tersebut. Menurut Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kota medan , volume sampah yang diproduksi masyarakat di Medan pada tahun ini meningkat pesat dibandingkan tahun 2009.  "Tahun 2009, volume sampah yang diproduksi warga Medan masih sekitar 1.300 ton per hari. Namun kini sudah mencapai 1.500 ton per hari. Dari jumlah itu hanya sekitar 75% yang dibawa ke tempat pembuangan akhir. Sisanya ada yang dibuang ke sungai, tercecer dan sebagainya,"(3).

Memang sangat disayangkan, Pemerintah yang sudah mengeluarkan anggaran yang cukup besar untuk dialokasikan ke Dinas yang menanggulangi sampah, namun problematika sampah masih terus bergejolak. Sampah-sampah yang masih menghiasi sungai, jalan dan berbagai tempat lainnya bukn semakin berkurang tetapi terus bertambah disetiap harinya.
Berbeda dengan beberapa kota kabupaten lainnya di Sumatera Utara, meskipun produksi sampah tersebut tidak sebesar kota medan, namun hal ini tetap menjadi dilema tersendiri. Dilema tersebut yakni kurangnya sarana sarana untuk menanggulangi sampah ini. seperti yang terjadi di kabupaten Langkat.  Jika wilayah ini dikelola dengan lebih baik lagi, maka kavling kavling kebun sawit dan padi bisa berpotensi besar sebagai daerah wisata. Namun, pengelolaan lingkungan dan wilayah masih belum tertata dan dikelola dengan baik. Ditambah lagi dengan masalah sampah yang menghiasi sepanjang jalan kota ini. Pada dasarnya untuk masalah sekitaran kota, tentu masih dapat ditangani oleh dinas kebersihan, karena sarana jalan ke wilayah tersebut masih dapat dijangkau. Namun yang menjadi pertanyaan bagaimana dengan daerah daerah yang berada di wilayah yang masih sulit untuk dijangkau. Sebuah daerah dimana akses dan sarana untuk menuju wilayah itu saja belum memadai, bahkan jauh dari peradaban kota.
Misalnya saja di kecamatan secanggang salah satu desanya yaitu desa jaring halus.  Desa jaring halus ini seperti sebuah pulau yang terletak di muara Sungai Wampum dan Selat Malaka. Akses jalan menuju desa ini satu satunya adalah sebuah kapal sederhana yang beroperasi layaknya sebuah angkutan. Sedangkan jalan darat menuju desa ini tidak tersedia. Sepanjang jalan menuju desa ini dikelilingi hutan mangrove. Namun modernisasi berupa teknologi telah masuk ke desa ini. Meskipun modernisasi telah masuk kedaerah tersebut seperti listrik, televise, telepon genggam, beragam makanan ringan dan lain sebagainya. Namun arus modernisasi tersebut menimbulkan sebuah akibat yang tidak kecil, terutama masalah sampah yang menjadi polemik yang begitu meresahkan.
 Gambar 1.kondisi sampah di desa jaring halus
Sumber sampah di daerah ini tidak hanya berasal dari masyarakat setempat. Karena lokasi ini merupakan sebuah pulau kecil, maka banyak sampah dari masyarakat pesisir yang bermuara dan menetap di Pulau ini. Walaupun masyarakat membuangnya ke laut pada saat air pasang, tetap saja sampah-sampah tersebut akan kembali lagi. Dan begitulah seterusnya. Wilayah ini tidak mempunyai TPS (Tempat Pembuangan Sementara) ataupun TPA (Tempat Pembuangan Akhir). Masyarakat setempat membuang sampah di halaman sekitar rumah, di depan, samping, belakang dan di bawah rumah. Karena rumah masyarakat di wilayah ini rata-rata adalah rumah panggung.
                                       
Hal ini sangat meresahkan masyarakat setempat. Kejenuhan masyarakat terhadap sampah di wilayah ini sudah memuncak tinggi. Menuggu air pasang untuk menarik sampah kelaut hanya perbuatan sia-sia. Selain akan mencemari air laut, sampah tadi justru akan kembali lagi atau membuat timbulan sampah baru di pulau lain.  
Berbagai solusi dan bantuan pemerintah sebenarnya telah dikerahkan untuk mengatasi masalah sampah di desa jaring halus, seperti pemberian keranjang keranjang sampah. Bahkan keranjang sampah tersebut hanya menjadi pajangan dan tidak berfungsi. Yang lebih parah adalah justru keranjang sampah tersebut ikut serta menjadi bagian dari sampah.
 Namun program-program tersebut hanya bersifat musim dan tidak berkesinambungan, sampah tetap saja menjadi masalah. Untuk itu perlu dilakukan sebuah kegiatan yang berkala untuk menangani produksi sampah rumahan di desa jaring halus.
Pemilihan desa jaring halus sebagai tempat dilaksanakan Kuliah Kerja Nyata (KKN), berangkat dari keprihatinan akan sampah yang tak kunjung berkurang dan terus menjadi masalah. Untuk itu kami menawarkan berbagai alur kegiatan untuk menangani masalah sampah ini. Hal pertama yang menjadi focus perhatian kami adalah pembangunan pola pikir untuk membutuhkan sampah.sampah terutama sampah yang sulit terurai.atau dengan kata lain membangun sebuah gerakan “PEDULI SAMPAH” di desa jaring halus.
Tujuan Kegiatan
            Sebuah program tentu tak pernah luput dari tujuan,dimana tujuan tersebut menjadi tonggak atau alasan yang kuat mengapa program tersebut menjadi penting. Adapun yang menjadi tujuan dari program ini adalah.
1.      Meningkatkan kesadaran warga akan pentingnya sampah di desa jaring halus
2.      Menanggulangi dampak dari produksi sampah di desa jaring halus.
3.      Membangun kesadaran masyarakat, agar lebih kreativ dalam menangani  dan mendaur ulang sampah yang yang telah meluap
4.      Menguatkan kelompok dampingan yang peduli sampah di desa jaring halus.


Hasil Yang Diharapkan
Adapun hasil yang diharapkan dari program ini adalah.
1.      Menghasilkan  kelompok dampingan yang peduli sampah di desa jaring halus.
2.      Dengan lingkungan yang bersih diharapkan desa jaring halus dapat menjadi sebuah desa ekowisata dengan bertumpu pada desa nelayan yang bersih.
3.       
Lingkup program
Sesuai dengan hasil yang diharapkan terhadap program KKN ini,yakni memnghasilkan kelompok kelompok yang nantinya menjadi agen agen perubahan untuk terciptanya lingkungan hidup yang bersih dari sampah. Kami akan memanfaatkan beberapa sumber kelompok yang telah tersedia di desa jaring halus, yakni:
·         Kelompok remaja masjid
·         Kelompok ibu ibu PKK
·         Kelompok PNPM
·         Serta seluruh elemen yang mendukung gerakan peduli sampah ini.
Secara ringkas kegiatan ini akan diawali dengan membentuk kelompok kelompok peduli sampah.kemudian bersama masyarakat mencari dan menemukan solusi yang cerdas bersama untuk menangani masalah sampah.
Operasional Program
Pelaksanaan
langkah langkah yang akan dilakukan dalam program peduli sampah di desa jaring halus kecamatan secanggang kabupaten langkat adalah.
·         Pengenalan masyarakat desa jaring halus terkait lingkungan dan sampah.
·         Meningkatkan kepedulian masyarakat desa jaring halus terhadap sampah
·         Membuat alternatif alternatif daur ulang sampah serta menjadikan sebuah lapangan kerja baru bagi masyarakat desa jaring halus.
Jadwal Kegiatan
Kegiatan ini akan dilaksanakan dalam kurun waktu enam bulan secara intensif pada bulan Mei sampai bulan oktober tahun 2012. Kegiatan ini di rincikan sebagai berikut :
No
Waktu
Rencana kegiatan
1
Bulan Mei
Penyuluhan tentang pentingnya sampah,pemanfaatan sampah keberlanjutan
2
Bulan Juni
Rencana aksi program peduli sampah 1
3
Bulan Juli
Rencana aksi program peduli sampah 2
4
Bulan Agustus - Oktober
Monitoring evaluasi

  Secara lebih rinci dijelaskan dalam tabel berikut :
No
Tempat
Waktu
Program
1
Kantor Kepala Desa
Minggu Ke-2 s/d Minggu ke-4 Bulan Mei
FGD Pemberdayaan masyarakat
2
Setiap Dusun
Selama Bulan Juni
Aktualisasi kebersihan bersama
3
Setiap Dusun
Bulan Juli minggu ke-2
Pembentukan kelompok daur ulang, presentasi hasil
4
Setiap Dusun
Bulan Agustus-Oktober
Monitoring Evaluasi keberlanjutan program






Laporan Pembiayaan
Lampiran 1. Peta Lokasi Pelaksanaan Program KKN-PPM


Lampiran 2. Rencana Monitoring Dan Evaluasi

Lampiran 3. Rincian Pembiayaan


D. Uraian Kegiatan




Vol

Jumlah
Satuan
(Rp)
Kontribusi
Mahasiswa Peserta
Perguruan Tinggi Pengusul
DP2M, Dikti, Depdiknas
I. PERSIAPAN







1. Rekruitmen mahasiswa







2. Sosialisasi ke masyarakat







pengguna program KKN







PPM







3. Persiapan perlengkapan







4. Pembekalan mahasiswa







5. .........dst
















































































Kekurangan:
1.       Membuat catatan kaki
2.       Merasionalkan kembali kata” yang akan ditulis.
3.       Masih terdapat kalimat yang bertentangan.
4.       Perhatikan huruf penulisan
5.       Bukan terisolasi, tetapi terkoneksi dengan kota
6.       Tujuan dan hasil belum berkesinambungan



 Catatan Kaki:
(http://nationalgeographic.co.id/berita/2011/11/90-persen-sampah-indonesia-belum-didaur-ulang
 




















1 komentar: