PENGELOLAAN LINGKUNGAN
Membentuk Komunitas Peduli Lingkungan Hidup di Desa Jaring Halus
Kecamatan Secanggang Kabupaten Langkat Provinsi Sumatera Utara
Oleh:
Tim
Pengusul
Kelompok
Diskusi Mahasiswa (KODIM) Antropologi
Latar belakang
Sembilan
puluh persen dari keseluruhan produksi sampah di Indonesia belum
mengalami proses daur ulang(1). Budaya membuang sampah secara sembarangan
menjadi kendala percepatan proses daur ulang. Padahal, proses daur ulang sampah
bisa memiliki nilai ekonomi. Sampah yang sudah dimanfaatkan menjadi barang
bernilai ekonomi hanya sekitar lima hingga 10 persen.
Setiap hari produksi sampah di kawasan
metropolitan mencapai 2.000 hingga 6.000 ton. Sedangkan kota-kota besar, memproduksi sebanyak 1.000 hingga 3.000 ton
sampah per hari dengan produksi terbesar yaitu sampah
rumah tangga(2). Sedikitnya jumlah sampah yang didaur ulang
dipengaruhi pola hidup masyarakat yang kurang memperhatikan kebersihaan
lingkungan. Namun masyarakat belum memperhatikan nilai sampah untuk kepentingan
jangka panjang. Sampah
rumah tangga punya nilai ekonomi yang tinggi jika diolah dengan baik. Namun,
masyarakat cenderung langsung membuang sampah basah dan kering yang dicampur, begitu pula dengan kota Medan.
Produksi sampah yang dihasilkan
warga dan pelaku usaha yang beroperasi di Kota Medan pada tahun ini
mencapai 1.500 ton per hari. Beruntungnya kota ini meskipun menghasilkan sampah 1500 ton
per hari masih memiliki sarana yang cukup baik untuk mengolah sampah sampah tersebut. Menurut Badan Lingkungan Hidup (BLH)
Kota medan , volume sampah yang diproduksi masyarakat di Medan pada tahun ini
meningkat pesat dibandingkan tahun 2009. "Tahun 2009, volume sampah
yang diproduksi warga Medan masih sekitar 1.300 ton per hari. Namun kini sudah
mencapai 1.500 ton per hari. Dari jumlah itu hanya sekitar 75% yang dibawa ke
tempat pembuangan akhir. Sisanya ada yang dibuang ke sungai, tercecer dan
sebagainya,"(3).
Memang sangat
disayangkan, Pemerintah yang sudah mengeluarkan anggaran yang cukup besar untuk
dialokasikan ke Dinas yang menanggulangi sampah, namun problematika sampah
masih terus bergejolak. Sampah-sampah yang masih menghiasi sungai, jalan dan
berbagai tempat lainnya bukn semakin berkurang tetapi terus bertambah disetiap
harinya.
Berbeda dengan beberapa kota kabupaten
lainnya di Sumatera
Utara, meskipun
produksi sampah tersebut tidak sebesar kota medan, namun hal ini tetap menjadi dilema
tersendiri. Dilema tersebut yakni kurangnya sarana sarana untuk menanggulangi
sampah ini. seperti yang terjadi di kabupaten Langkat. Jika wilayah ini dikelola dengan lebih baik
lagi, maka kavling
kavling kebun sawit dan padi bisa berpotensi besar sebagai daerah wisata. Namun,
pengelolaan lingkungan dan wilayah masih belum tertata dan dikelola dengan
baik. Ditambah lagi dengan masalah sampah yang menghiasi sepanjang jalan kota
ini. Pada dasarnya untuk masalah sekitaran kota, tentu masih dapat ditangani oleh dinas
kebersihan, karena sarana jalan ke wilayah
tersebut masih dapat dijangkau. Namun yang menjadi pertanyaan bagaimana dengan daerah daerah yang berada
di wilayah yang masih sulit untuk dijangkau. Sebuah daerah dimana akses dan sarana untuk menuju
wilayah itu saja belum memadai, bahkan jauh dari
peradaban kota.
Misalnya saja di kecamatan secanggang salah satu desanya yaitu desa jaring halus. Desa jaring halus ini seperti sebuah pulau yang terletak di muara Sungai Wampum dan Selat Malaka. Akses jalan menuju desa ini satu satunya adalah sebuah kapal sederhana yang
beroperasi layaknya sebuah angkutan. Sedangkan jalan darat menuju desa ini tidak
tersedia. Sepanjang
jalan menuju desa ini dikelilingi hutan mangrove. Namun modernisasi berupa teknologi telah masuk
ke desa ini. Meskipun modernisasi telah masuk kedaerah tersebut seperti
listrik, televise, telepon
genggam, beragam makanan ringan dan lain sebagainya. Namun arus modernisasi tersebut menimbulkan
sebuah akibat yang tidak kecil, terutama masalah sampah yang menjadi polemik
yang begitu meresahkan.
Gambar
1.kondisi sampah di desa jaring halus
Sumber sampah di daerah ini tidak hanya berasal dari
masyarakat setempat. Karena lokasi ini merupakan sebuah pulau kecil, maka
banyak sampah dari masyarakat pesisir yang bermuara dan menetap di Pulau ini.
Walaupun masyarakat membuangnya ke laut pada saat air pasang, tetap saja
sampah-sampah tersebut akan kembali lagi. Dan begitulah seterusnya. Wilayah ini
tidak mempunyai TPS (Tempat Pembuangan Sementara) ataupun TPA (Tempat
Pembuangan Akhir). Masyarakat setempat membuang sampah di halaman sekitar
rumah, di depan, samping, belakang dan di bawah rumah. Karena rumah masyarakat
di wilayah ini rata-rata adalah rumah panggung.
Hal ini sangat meresahkan masyarakat setempat. Kejenuhan
masyarakat terhadap sampah di wilayah ini sudah memuncak tinggi. Menuggu air
pasang untuk menarik sampah kelaut hanya perbuatan sia-sia. Selain akan
mencemari air laut, sampah tadi justru akan kembali lagi atau membuat timbulan
sampah baru di pulau lain.
Berbagai solusi dan bantuan
pemerintah sebenarnya telah dikerahkan untuk mengatasi masalah sampah di desa
jaring halus, seperti pemberian keranjang keranjang sampah. Bahkan keranjang sampah tersebut hanya menjadi pajangan
dan tidak berfungsi. Yang lebih parah adalah justru keranjang sampah tersebut
ikut serta menjadi bagian dari sampah.
Namun
program-program
tersebut hanya bersifat musim dan tidak berkesinambungan, sampah tetap saja menjadi masalah. Untuk itu
perlu dilakukan sebuah kegiatan yang berkala untuk menangani produksi sampah
rumahan di desa jaring halus.
Pemilihan desa jaring halus
sebagai tempat dilaksanakan Kuliah
Kerja Nyata
(KKN), berangkat dari keprihatinan akan sampah yang tak kunjung berkurang dan terus menjadi
masalah. Untuk
itu kami menawarkan berbagai alur kegiatan untuk menangani masalah sampah ini. Hal pertama yang menjadi focus perhatian kami
adalah pembangunan pola pikir untuk membutuhkan sampah.sampah terutama sampah
yang sulit terurai.atau dengan kata lain membangun sebuah gerakan “PEDULI
SAMPAH” di desa jaring halus.
Tujuan
Kegiatan
Sebuah
program tentu tak pernah luput dari tujuan,dimana tujuan tersebut menjadi
tonggak atau alasan yang kuat mengapa program tersebut menjadi penting. Adapun
yang menjadi tujuan dari program ini adalah.
1.
Meningkatkan
kesadaran warga akan pentingnya sampah di desa jaring halus
2.
Menanggulangi
dampak dari produksi sampah di desa jaring halus.
3.
Membangun kesadaran masyarakat, agar lebih kreativ dalam
menangani dan mendaur ulang sampah yang
yang telah meluap
4.
Menguatkan kelompok
dampingan yang peduli sampah di desa jaring halus.
Hasil
Yang Diharapkan
Adapun hasil yang diharapkan dari program ini adalah.
1.
Menghasilkan
kelompok dampingan yang peduli sampah di
desa jaring halus.
2.
Dengan
lingkungan yang bersih diharapkan desa jaring halus dapat menjadi sebuah desa
ekowisata dengan bertumpu pada desa nelayan yang bersih.
3.
Lingkup
program
Sesuai dengan hasil yang diharapkan terhadap
program KKN ini,yakni memnghasilkan kelompok kelompok yang nantinya menjadi
agen agen perubahan untuk terciptanya lingkungan hidup yang bersih dari sampah. Kami akan memanfaatkan beberapa sumber
kelompok yang telah tersedia di desa jaring halus, yakni:
·
Kelompok
remaja masjid
·
Kelompok
ibu ibu PKK
·
Kelompok
PNPM
·
Serta
seluruh elemen yang mendukung gerakan peduli sampah ini.
Secara ringkas kegiatan ini akan diawali
dengan membentuk kelompok kelompok peduli sampah.kemudian bersama masyarakat
mencari dan menemukan solusi yang cerdas bersama untuk menangani masalah
sampah.
Operasional Program
Pelaksanaan
langkah langkah yang
akan dilakukan dalam program peduli sampah di desa jaring halus kecamatan
secanggang kabupaten langkat adalah.
·
Pengenalan masyarakat desa jaring halus terkait
lingkungan dan sampah.
·
Meningkatkan kepedulian masyarakat desa jaring
halus terhadap sampah
·
Membuat alternatif alternatif daur ulang sampah
serta menjadikan sebuah lapangan kerja baru bagi masyarakat desa jaring halus.
Jadwal Kegiatan
Kegiatan ini akan dilaksanakan
dalam kurun waktu enam bulan secara intensif pada bulan Mei sampai bulan
oktober tahun 2012. Kegiatan ini di rincikan sebagai berikut :
|
No
|
Waktu
|
Rencana kegiatan
|
|
1
|
Bulan Mei
|
Penyuluhan tentang pentingnya sampah,pemanfaatan sampah
keberlanjutan
|
|
2
|
Bulan Juni
|
Rencana aksi program peduli sampah 1
|
|
3
|
Bulan Juli
|
Rencana aksi program peduli sampah 2
|
|
4
|
Bulan Agustus - Oktober
|
Monitoring evaluasi
|
Secara lebih rinci dijelaskan dalam tabel
berikut :
|
No
|
Tempat
|
Waktu
|
Program
|
|
1
|
Kantor Kepala Desa
|
Minggu Ke-2 s/d Minggu ke-4 Bulan Mei
|
FGD Pemberdayaan masyarakat
|
|
2
|
Setiap Dusun
|
Selama Bulan Juni
|
Aktualisasi kebersihan bersama
|
|
3
|
Setiap Dusun
|
Bulan Juli minggu ke-2
|
Pembentukan kelompok daur ulang, presentasi hasil
|
|
4
|
Setiap Dusun
|
Bulan Agustus-Oktober
|
Monitoring Evaluasi keberlanjutan program
|
|
|
|
|
|
Laporan Pembiayaan
Lampiran 1. Peta Lokasi Pelaksanaan Program KKN-PPM
Lampiran 2. Rencana Monitoring Dan Evaluasi
Lampiran 3. Rincian
Pembiayaan
|
D.
Uraian Kegiatan
|
|
|
Vol
|
Jumlah
Satuan
(Rp)
|
Kontribusi
|
||
|
Mahasiswa Peserta
|
Perguruan Tinggi Pengusul
|
DP2M, Dikti, Depdiknas
|
|||||
|
I. PERSIAPAN
|
|
|
|
|
|
|
|
|
1. Rekruitmen
mahasiswa
|
|
|
|
|
|
|
|
|
2. Sosialisasi ke
masyarakat
|
|
|
|
|
|
|
|
|
pengguna program
KKN
|
|
|
|
|
|
|
|
|
PPM
|
|
|
|
|
|
|
|
|
3. Persiapan
perlengkapan
|
|
|
|
|
|
|
|
|
4. Pembekalan
mahasiswa
|
|
|
|
|
|
|
|
|
5. .........dst
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Kekurangan:
1.
Membuat
catatan kaki
2.
Merasionalkan
kembali kata” yang akan ditulis.
3.
Masih
terdapat kalimat yang bertentangan.
4.
Perhatikan
huruf penulisan
5.
Bukan
terisolasi, tetapi terkoneksi dengan kota
6.
Tujuan
dan hasil belum berkesinambungan
Catatan Kaki:
TitaniumKeychain - Home - TITIAN-ART.COM
BalasHapus› samsung titanium watch tags 포커 › titanium-keychain › winnerwell titanium stove tags › grade 23 titanium titanium-keychain TitaniumKeychain. guy tang titanium toner