SINABUNG! ya, Gunung tertinggi yang berada di Sumatera Utara.
Tidak pernah terbayang olehku untuk sampai dan menapakkan kaki ini di puncak gunung itu. Impian yang rasanya mustahil untuk aku wujudkan. Apalagi dengan kondisi fisik yang menyulitkan jika berada di tempat yang dingin. Jika Dia mengatakan 'Ya', maka jadilah. Ternyata tidak ada yang mustahil. Sekarang aku percaya bahwa impian setinggi apapun ketika kita mau berusaha untuk mencapainya dan Allah berkehendak akannya maka tidak ada yang mustahil untuk terwujud.
Minggu, 2 Mei 2011 bersama rekan-rekan XXX yang berjumlah kurang lebih 30 orang berangkat dari tempat treining menuju lau kawar yang berada tepat di bawah kaki gunung itu. Dengan mengendarai bus yang berukuran sedang beriringan menapaki jalan yang berliku-liku. Sejenak merenung awal keraguan untuk berangkat kesana. Hanya membawa perlengkapan seadanya, Bahkan memakai sepatu yang tidak seharusnya dipakai untuk mendaki. Membeli sarung tangan di tempat terdekat, dan memakai jaket yang dibawakan oleh rekan dari tempat kost tinggal saya, karena pada saat itu saya sedang treining dan tidak diizinkan untuk keluar.
Dingin mulai menyentuh kulit menembus jaket dan pakaian yang aku pakai. Sore menjelang malam kami sampai di tempat tujuan. Angin bertiup kencang seakan ingin membawa dan menerbangkan kami langsung ke puncak gunung itu. Langit ditutupi awan dan asap gunung, sehingga malam terasa datang lebih cepat. Walaupun begitu, kami tidak ingin melewati kesempatan yang ada, sedikit exis mengambil beberapa petik foto di pinggir lau kawar.
Setelah beristirahat dan menunggu tengah malam, kami mulai bersiap-siap dan bergegas untuk memulai perjalanan. Katanya sieh, perjalanan malam akan lebih memudahkan pendaki pemula karena tidak melihat langsung terjalnya jalan, dan berkesempatan bisa melihat sun rise. Karena persiapan yang sangat kurang, diantara kami ada yang tidak membawa senter termasuk saya. Tidak hilang akal, saya memakai handphone saya, kebetulan ada lampu seperti senter diatasnya. Dimulai dengan doa bersama kami berjalan selangkah demi selangkah melewati jalan yang terjal dan bebatuan, padahal kami belum masuk kedalam pintu rimbah. jangan dibayangkan seperti pintu rumah ya. tapi jalan awal yang tidak akan ditemukan lagi rumah atau penduduk.
Sebelum masuk pintu tersebut, beberapa rekan harus kembali dan dijemput oleh kodam yang bertugas di bawah karena kondisinya tidak memungkinkan untuk melanjutkan perjalanan. Amazing, banyak kunang-kunang di bawah sana. Heee, tapi bukan kunang-kunang beneran, cuma lampu rumah penduduk disana. Wauuuuu,,,, belummm, belum sampaiii. Untuk sementara sampai disini dulu ya,, to be contineu
Tidak ada komentar:
Posting Komentar